Karya : Kak Arief
Aku menatap ke atas langit, terlihat awan gelap pekat yang berkumpul menjadi satu. Buliran air mulai turun, rintik demi rintik dan akhirnya membasahi permukaan tanah yang berada disekitarnya. Aroma tanah yang semerbak membuatku merasa nyaman, seakan aku adalah bagian dari hujan, seakan aku mengalir dengan tetes hujan yang mengenai tubuhku. Aku terus terdiam membiarkan hujan mengguyurku dengan bebas, sampai aku mendengar suara yang jujur sangat aku hindari.
“Kau bodoh ya?” Terdengar suara menyebalkan, namun membuat hatiku hangat.
Aku menoleh ke sumber suara.
“Kau juga sama bodohnya”
Dia tertawa.
“Kau benar”.
Kami kembali terdiam di atas rumput, tanpa obrolan, tanpa sentuhan, hanya hujan.
“Mau sampai kapan kau terus diam?” Dia bertanya dengan lembut.
Seakan tubuhku remuk mendengarnya, luka lama yang sudah ku pendam, mulai muncul ke permukaan.
Aku hanya diam, fokus merasakan bulir hujan yang menyentuh kulit dengan dinginnya.
Dia kembali berbicara
“Aku memang bentuk wujud yang tidak solid sekarang, tapi bukankah aku masih terlihat mengagumkan?”.
Dia tersenyum dengan menyebalkan.
Tubuhku terasa sakit, aku tidak bisa menahannya, aku ingin semua hilang, aku ingin wajah hangat itu musnah, aku ingin wajah bodoh dan menyebalkan itu melebur bersama aliran hujan, aku ingin berteriak dan melenyapkannya, tapi aku hanya diam.
Suara gemuruh petir menggelegar dengan kencang, badaipun semakin deras melanda, tubuhku mulai menggigil dan terasa nyeri.
“Kenapa kau muncul disini?” tanyaku padanya.
Dia mengangkat bahu dan bersikap acuh.
“Aku hanya datang sesuai kemauanmu bukan?”
Sejujurnya aku tidak terlalu peduli sekarang, entah dia adalah wujud solid atau bukan, masa depan yang terkutuk akan selalu hadir sekarang, tapi aku hanya ingin dia memberikan jawaban. Aku memberanikan diri menatapnya, mata biru itu tetap terlihat indah sekaligus mengancam.
“Berikan aku jawaban, apa yang harus kulakukan dengan kecacatan yang kubawa sekarang?”
Dia menjawa singkat.
“Hidup”
Aku tertawa miris.
“Setelah kau sendiri mati dan membuatku cacat seperti sekarang?”
Dia tersenyum mengintimidasi.
“Ya? Apa itu suatu kesalahan?”.
Sejujurnya aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang, semua hanya terasa gelap dan perih.
“Kau benar, lagipula kau sekarang kutukan, apa yang kuharapkan?”
Dia mendekatiku dan menggenggam tanganku.
“Bahkan takdirmu hanya untuk dendam sekarang”
Aku tertawa kencang,
“Apa aku terlihat peduli sekarang? Tidak sama sekali”. Jawabku sambil tersenyum miris.
Dia kembali melanjutkan kata-katanya.
“Kecacatan yang kau bawa mungkin tidak begitu penting sekarang, ekspektasi yang kau bawa hanya akan merusak semua, kau bagaikan mayat yang tidak akan bisa hidup seutuhnya, tapi peduli apa? Yang penting kau hidup”.
Dia menatapku dengan lekat, rasanya sakit harus melihat mata biru itu sekarang, mata seseorang yang membuat jiwaku menjadi cacat dan penuh dengan dendam, rasanya aku ingin menangis dan berteriak sekarang.
Aku menggigit bibirku hingga berdarah, persetan dengan sakit, aku tidak ingin dia melihat aku menangis.
“Kau” Suaraku tertahan.
“Kau menyuruhku terus hidup meskipun aku harus menanggung dendam dan kecacatan mental?”.
Dia hanya menatap dingin tanpa ekspresi.
“Ya”
Aku berbicara pelan.
“Lalu kenapa kau menghubungiku dulu? Mengatakan bahwa hidup tidak terlalu buruk lalu mengucapkan selamat tinggal dan kau mati terbunuh”.
Dia tersenyum lepas dan mengatakan.
“Seperti yang kau bilang, aku ini kutukan”
Lalu dia menghilang, lenyap tanpa sisa. yang tersisa hanyalah badai, dingin, nyeri, dan aliran hujan yang tercampur darah dari bibirku. Bahkan aku tidak bisa membedakan antara ilusi dan kenyataan sekarang.
Aku pergi dari rumput hijau itu dan kembali pulang kerumah, menanggung luka, kecacatan, dendam, hidup diantara garis batas benar dan salah.
Tapi apapun itu, mata biru itu telah memerintahkan, bahwa aku harus tetap hidup.