Karya : Kak Wulan
Siang itu di sebuah sekolah, waktu menunjukkan pukul 12.30. Waktu istirahat bagi guru dan murid-murid di sekolah. Beberapa anak kelas 4 SD sedang bermain sepak bola di lapangan. Dua anak perempuan sedang bercengkerama sambil menikmati jus alpukat dan jus stroberi. Playground pun ramai, ada yang main perosotan, ada yang mendorong temannya bermain ayunan sambil tertawa lepas, dan tak lupa ada suara lompatan menyenangkan ana-anak yang sedang bermain trampolin. Suasana jam istirahat memang ramai dan menggembirakan. Aku menikmatinya sambil duduk di bawah pohon rindang samping kantin sekolah. Aku yang baru saja bergabung selama 1 bulan di sekolah ini, belum terlalu akrab dengan guru-guru lainnya dan lebih memilih untuk melihat asyiknya anak-anak bermain.
Tiba-tiba seorang supervisor menghampiri dan mengajak Aku berbicara. Beliau memberikan tawaran kepadAku untuk mengajarkan seorang anak. “Siang Bu, Saya dapat kabar ada seorang anak bernama Keisya. Ia berusia 13 tahun. Kondisinya sedang mogok sekolah sudah 3 bulan lamanya. Saat ini Ia belajar di rumah, namun setiap ada guru yang datang ke rumahnya, Ia selalu marah dan membanting barang-barang. Kalau Ibu berkenan untuk memberikan intervensi kepada Ananda Keisya, kita bisa lihat bersama-sama ke rumahnya.” ajak supervisor tersebut.
Panggilan Hati
Aku mengajukan pertanyaan terkait ajakan tersebut, “Rumah Ananda Keisya dimana Pak?” “Di Permata Hijau. Kalau berkenan nanti bisa 2 kali kesana tiap pekannya” “Wah jauh juga ya Pak hehe”. Aku berpikir agak sulit untuk menjangkau ke tempat tersebut dimana jaraknya 25 km dari rumah saya di Depok. Sewaktu masih kuliah Aku memang sering mengajar privat ke beberapa tempat yang agak jauh namun berbeda dengan kondisi saat dimana Aku juga sudah bekerja fulltime di sebuah sekolah, terlebih lagi anak yang nantinya Aku ajarkan bukan lagi siswa regular pada umumnya, melainkan anak spesial yang pastinya akan membutuhkan tenaga yang lebih ekstra dibandingkan sebelumnya.
Keesokan harinya, supervisor memastikan kembali terkait dengan ajakan kemarin, “InsyaAllah, Pak” jawab Aku. “Baik hari Sabtu kita kesana ya untuk asesmen awal” “Baik Pak”. Aku yang sebelumnya ragu, akhinya memutuskan untuk menerima tawaran mengajar tersebut. Aku pikir inilah masa dimana Aku harus belajar mengeksplorasi berbagai jenis kasus yang Aku sudah pelajari dimasa kuliah dulu. Semoga saja nantinya banyak pelajaran yang bisa diambil. Urusan jarak dan waktu seharusnya tidak masalah bagiku yang saat itu belum mempunyai banyak tanggungan di luar pekerjaan.
Keisya dan Kucingnya
Hari Sabtu tiba. Aku dan supervisor tiba di rumah Keisya pada pukul 14.30. Kami membunyikan bel rumah dan seorang asisten rumah tangga membuka pintu rumah tersebut. Tampak dihadapanku seorang gadis remaja duduk bersama beberapa orang di ruang tamu. Kami dipersilahkan duduk dan ditawarkan hidangan yang sudah disediakan di atas meja. Kami saling memperkenalkan diri satu sama lain. Ternyata gadis remaja terebut adalah Keisya yang ditemani Kakek, Nenek, Mama, dan Kakaknya. Papanya tidak bisa ikut saat itu karena sedang ada pekerjaan yang harus ditunaikan. Papanya bekerja sebagai dirut di sebuah perusahaan sehingga jarang sekali mempunyai waktu senggang.
Kami melanjutkan obrolan dengan pembahasan ringan sambil sedikit bercanda. Setelah itu, tak lupa kami mulai membahas terkait rencana kami untuk mengajar Keisya. Pihak keluarga pun menjelaskan bagaimana Keisya dan kesehariannya. Aku melihat Keisya beberapa kali memandang kami dengan pandangan yang serius dan mencurigakan, beberapa kali Ia alihkan perhatiannya dengan memainkan ponselnya. Lama kelamaan, Keisya terlihat bosan dengan perbincangan yang tengah berlangsung. Dia pun langsung berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Aku yang saat itu berpikir bahwa Aku harus melakukan asesmen pada hari itu (tidak hanya tanya jawab dengan keluarganya), Aku langsung meminta izin untuk menemui Keisya di kamarnya. Apalagi ini merupakan kesempatan emas bagi Aku yang seorang amatir untuk melakukan asesmen tanpa dilihat orang lain hehe. Keluarganya pun mengizinkan dan Aku langsung mengetuk kamar Keisya.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Aku langsung membukanya perlahan. Nampak Keisya sedang menonton TV di atas tempat tidur. Aku menghampirinya dan mulai membuka obrolan. “Keisya kelas berapa sekarang? Keisya suka makan apa? Keisya lagi nonton film apa? Wah bagus ya filmya, siapa nama pemerannya?” semua pertanyaan yang Aku lontarkan tidak satupun yang Ia jawab. Ia hanya merespon dengan tatapan singkat dan senyuman yang sedikit jutek. 15 menit berlalu dengan diam. Tiba-tiba Aku teringat sebuah obrolan dengan keluarganya tadi, bahwa Keisya menyukai dan memelihara kucing. Aku pikir topik ini menarik untuknya.
“Keisya, Aku mau cerita, Aku punya banyak kucing di rumah, tapi belum ada namanya. Kira-kira Keisya ada saran nama yang bagus untuk kucing-kucingku? Keisya yang sedang asyik memainkan ponselnya tiba-tiba bangun ke posisi duduk dan melihat ke arahku. “Kucingnya ada berapa?” tanya Keisya. Waah terkejut sekali Aku mendengar responnya. Dari banyaknya pertanyaan yang Aku lontarkan sebelumnya, yang Keisya jawab adalah pertanyaan seputar kucing. Kami pun melanjutkan obrolan kami tentang kucing.
Setelah kami mengobrol banyak, kami pun dipanggil untuk makan bersama di ruang makan. Jamuan yang dihidangkan mewah sekali bagiku. Aku dan Keisya datang paling terakhir setelah semuanya sudah siap duduk di tempat makan. “Wah asyik banget nih sepertinya Keisya mengobrol di kamar” tanya Kakeknya sembari menyambut kami di meja makan. Aku pun duduk dan langsung dipersilahkan mengambil piring. “Itu ada dendeng, ayam, sama sayurnya” tiba-tiba Keisya berbicara menawarkan makanan yang ada di atas meja kepadaku. Wah terkejut sekali Aku mendengar Keisya mulai membuka obrolan di hari pertama bertemu. Meskipun belum menyebut namaku, namun bagiku ini adalah awalan yang baik untuk memulai keakraban kami kedepannya.
Setelah makan kami shalat berjamaah (Keisya belum mau ikut shalat dan memilih untuk ke kamarnya kembali), setelah itu kami mengevaluasi dan membicarakan rencana kedatangan selanjutnya, dan berpamitan. “Tadi ngobrol apa saja Bu sama Keisya di dalam kamar? Saya kaget saat makan dia mulai membuka obrolan dan terlihat lebih bersemangat” tanya supervisor kepadaku. Dalam hati Aku bergumam “Padahal hanya mengobrol seputar kucing ☺”.
Mengenal
Keisya yang kutahu selama ini adalah anak remaja 13 tahun yang cantik. Informasi lain yang Aku dapatkan adalah bahwa Ia saat ini sedang mogok sekolah dan emosinya tidak terkontrol. Hanya itu saja informasi yang Aku dapat darinya. Aku belum tahu lebih banyak tentang dirinya dan apa yang menjadi penyebabnya. Sejak pertemuan awal kemarin, Aku mulai dijadwalkan bertemu dengannya 2 kali tiap pekannya. Dan mulai saat itu, Aku perlahan mulai mengenalnya.
Setelah 1 bulan bertemu, Aku mulai mengenal Ia dan keluarganya. Ayahnya seorang Direktur Utama sebuah perusahaan yang setiap harinya harus pulang larut malam. Ibunya sibuk dengan aktivitas di luar dengan rekan-rekannya. Kakaknya sibuk berkuliah di perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Sehari-hari, Keisya di rumah hanya bersama ART dan kucing-kucingnya; Oreo, Summer, dan Winter. Selain itu, Aku mencari tahu lingkungan rumahnya. Rumah yang besar tapi nampak tua. 3 kamar besar menjadi gudang untuk menyimpan barang-barang yang tidak terpakai. Aku juga mengobservasi aktivitas Keisya sehari-hari dan kemandiriannya selama ini. Dan ternyata di usianya yang ke 13 tahun, Keisya belum mampu mandi dan berpakaian secara mandiri. Memakai celana terlihat sulit baginya karna otot-ototnya yang lemah. Keisya mandi dengan bantuan penuh ART. Selain itu, Keisya juga terkadang belum bisa kontrol BAB dan BAK nya.
Setelah 3 bulan bertemu, Aku coba melihat kemampuan dasarnya (komponen yang Aku pelajari sewaktu kuliah). Aku mulai mengobservasi dari sisi sensori dan motoriknya. Awalnya sulit menentukan kegiatan yang tepat untuk mengobservasi sensori motorik anak remaja. Berbeda dengan anak kecil yang masih bisa dilihat dengan kemampuannya bermain.
Awalnya, keluarganya memintaku untuk mengajarkan Keisya pelajaran sekolah yang banyak tertinggal. Namun Aku tidak melakukan itu. Bagiku yang Keisya butuhkan saat itu adalah seorang teman yang menemani aktivitas dasar yang belum Ia kuasai. Bukan target akademik. Jadi selama mengajar Keisya, Aku menemani Ia dalam melakukan aktivitas yang seharusnya bisa Ia lakukan sendiri, Aku menemaninya mandi, toileting, membersihkan pembalut, berpakaian, sholat, menyiram tanaman, menyapu, membuat makanan, berbelanja, dan sebagainya. Rangkaian kegiatan tersebut mutlak lebih Ia butuhkan dibanding pelajaran akademik yang selama ini menjadi fokus keluarganya.
Engagement
Setelah Aku mulai mengenal banyak tentang Keisya, nampaknya Aku harus segera memulai untuk memberikan kegiatan yang bermanfaat untuk meningkatkan kemampuannya. Aku bingung harus memulai darimana. Anak 13 tahun ini dari segi sensori dan motoriknya masih belum maksimal. Ia juga sangat belum mandiri dalam melakukan aktivitas kegiatan sehari-hari. Dari segi kognitif, masih setara dengan anak kelas 1 SD dimana Ia hanya bisa membaca dan menulis, belum mampu berhitung dan memahami target akademik lainnya. Dari segi emosi dan psikososial pun masih belum maksimal, Keisya terlihat belum aware dan belum memahami konsep diri. Ia belum bisa memaknai makna dari setiap aktivitas yang Ia lakukan. Yang Aku tahu saat itu, Keisya hanya bisa bermain ponsel. Itupun tidak bermakna. Selain itu, kemampuannya berkomunikasi dengan orang lain masih bisa dilakukan, hanya saja terkadang jawabannya tidak sinkron.
Di usia yang ke 13 tahun, aktivitas-aktivitas dasar yang semestinya diajarkan tidak cocok untuknya. Selama ini, Ia selalu marah dan mengamuk apabila ada guru yang datang ke rumahnya untuk mengajarkannya. Padahal setelah Aku lihat, gurunya mengajarkan dari hal-hal yang paling dasar dan mudah.
Setelah Aku pikir kembali, Aku memutuskan untuk tidak menggunakan kata ‘belajar’ dalam aktivitas kami. Dan Aku memutuskan untuk memulai semua komponen yang tertinggal dengan memulainya dengan engagement.
Menata Hati
Bagiku, hal terberat menjadi seorang pengajar adalah menata hati. Dimana pada tiap harinya ada saja masalah dalam hidup Tes. Entah di dalam lingkup pekerjaan, hubungan dengan orang lain, dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut yang terkadang masih terbawa sampai ke tempat kerja. Tidak bisa dipungkiri, beberapa perasaan sedih dan kecewa itu tidak bisa selesai dalam sekejap sehingga saat bekerja pun kita masih memikirkan hal tersebut.
Menjadi seorang pengajar, setiap hari yang ada di hadapan kita bukanlah kolega yang dapat kita ajak curhat setiap saat. Jika partner kerja kita adalah orang-orang dewasa, rasanya lebih mudah untuk kita bebas mencurahkan ekspresi dan perasaan. Namun yang berhadapan dengan seorang pengajar setiap harinya adalah anak kecil yang siap untuk menerima pelajaran dari gurunya. Anak kecil yang seharusnya tidak perlu tahu apa yang terjadi pada gurunya. Dalam kondisi apapun, anak ini berhak menerima pengajaran dari seorang guru, tanpa berhak tahu apa yang terjadi pada gurunya saat itu.
Ya, menjadi seorang pengajar adalah seni dalam menata hati. Tetap tertawa lepas di hadapan anak didik, tetap bernyanyi membangkitkan suasana hati anak didiknya, dan beberapa saat harus berpura-pura bahagia.
Perjalanan
Salah satu hal yang awalnya membuat Aku ragu memutuskan untuk menemui Keisya adalah soal jarak tempuh dan perjalanan. Jarak Depok-Permata Hijau hampir 25 km. Aku dijadwalkan kesana tiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu di waktu sore hari. Bukan hal mudah bagiku dimana pagi sampai sore tenagAku sudah tersita sebagai karyawan full time. Biasanya Aku mulai berangkat dari Depok jam 4 sore dan kembali ke Depok hampir jam 9/10 malam. Melewati kemacetan Jakarta Selatan, dan juga merasakan padatnya kereta api apabila Aku sedang merasa lelah untuk mengendarai motor. Menerjang hujan deras dan panas terik.
Suatu hari, Aku pernah mengalami kecelakaan sebelum sampai di rumah Keisya. Aku jatuh dari motor karena jalan licin di kawasan Pondok Indah. Aku hampir tertabrak bus dan beberapa tubuhku luka memar. Belum sempat diobati, Aku langsung melanjutkan perjalanan ke rumah Keisya karna pikirku saat itu Keisya sudah menungguku di rumahnya. Sesampainya di rumah Keisya, hanya ada Keisya di rumah. Keisya belum aware dengan lukAku saat itu sehingga Aku baru mengobatinya sesampainya di rumah jam 10 malam. Beragam perjalananku kesana membuat Aku merasa bersyukur pernah menghadapi pengalaman yang luar biasa seperti ini. Pengalaman yang pastinya membuat Aku lebih kuat dari sebelumnya. Dan pastinya, perjalanan ini tidak akan ada jika panggilan hati dan engagement ku dengan Keisya tak terbentuk.
Tawa
Setelah hampir 6 bulan Aku mengenalnya, Keisya bagiku adalah seorang anak cantik yang yang sering tersenyum. Beberapa kegiatan yang Aku lakukan bersamanya selalu Ia respon dengan senyuman. Saat Aku ke rumahnya, Aku seperti sedang bermain ke rumah sahabatku, bukan seperti ke rumah muridku. Saat Aku membunyikan bel rumahnya, Ia terlihat berlari dari tangga menuju ke pintu dan membuka pintu dengan senyuman yang sumringah. Ia juga tersenyum saat Ia terlihat bingung ketika Aku memintanya bertanya ke satpam, penjual, dan beberapa orang yang kita temui ketika kita beraktivitas di luar rumah. Aktivitas yang menurutnya sulit sekalipun, jika Ia senang melakukannya maka Ia akan tersenyum menghadapinya. Keisya juga tersenyum saat kami membuat sandwich ala kadarnya. Padahal saat itu Ia terkena sedikit goresan pisau. Tapi Aku tahu saat itu perasaannya sedang senang, sehingga Ia tak pedulikan tangannya yang terluka akibat terkena pisau. Keisya tersenyum saat Aku berpamitan dengannya dengan helm ojek online yang saat itu Aku gunakan, Aku tahu dia tersenyum karna berhasil memesan ojek online dengan cara yang baru Ia ketahui. Kita juga tersenyum dan tertawa saat kita saling mencipratkan air dalam aktivitas menyiram tanaman. Ia nampak seperti baru pertama kali melakukan aktivitas menyiram tanaman selama 13 tahun Ia tinggal di rumah yang memiliki taman yang cukup besar. Ya, Keisya anak yang murah senyum bahkan hampir selalu tersenyum.
Marah
Di suatu hari saat jadwal Aku mengajar Keisya, tiba-tiba di depan rumahnya sudah menunggu seorang Bapak yang menggunakan jaket ojek online. Aku menghampiri dan bertanya kepada Bapak tersebut, “Maaf Pak, ada yang bisa Saya bantu?” “Mba yang tinggal di rumah ini ya? Ini ada yang pesan makanan tapi Saya tunggu daritadi tidak ada yang keluar. Bagaimana ini makanannya sudah Saya pesan?”. Pikirku saat itu, pasti Keisya yang pesan. Dia sedang tertarik mencoba berbagai aplikasi di ponsel namun tidak tahu tujuannya. Terlebih lagi keluarganya tidak ada yang memantau Keisya dalam menggunakan ponselnya. Ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya dia pernah juga memesan jasa salon di aplikasi online dan petugas yang sampai di rumahnya pun dihiraukan di depan gerbang begitu saja. Mulai saat itu, Aku rasa Keisya butuh teman agar bisa menggunakan ponselnya secara bijak.
Sore harinya setelah Aku menemani Keisya dan memberitahu cara menggunakan ponsel dengan tepat. Keisya terlihat tertarik memperhatikanku dan seperti biasa, Ia tersenyum dan tertawa kecil sepanjang aktivitas. Setelah selesai, Aku harus bergegas pulang karna sudah 3 jam di rumahnya. Aku langsung pesan ojek online. Setelah itu Aku ke toilet untuk mencuci tangan. Setelah kembali Aku kaget melihat ponselku tidak ada di dalam tas. Aku juga kaget melihat semua pintu rumahnya terkunci. Aku bertanya ke Keisya dan Keisya tidak mau menjawabnya. Aku meminta bantuan asisten rumah tangga untuk membantu mencari ponsel dan kunci rumahnya. Aku khawatir Bapak ojek online sudah menunggu lama. Aku tidak tahu kenapa Keisya melakukan semua itu sesaat sebelum Aku pulang. “Kei, kakak mau pulang, Bapak ojeknya kasian udah menunggu di luar”. Beberapa kali Aku memintanya untuk memberitahu dimana Ia menyembunyikan ponselku dan kunci rumahnya tapi Ia hanya diam dan terlihat bingung. Selang 1 jam, kunci dan ponselku akhirnya ditemukan oleh ART. Namun Keisya bergegas berlari ke pintu agar pintu tidak dapat terbuka. Dua orang ART memegangi Keisya dan Aku dengan cepat berusaha membuka pintu dan bergegas keluar. Aku berlari dan Keisya mengejar Aku. Di depan komplek rumah yang saat itu sedang banyak orang, Keisya menarik jilbab dan baju Aku sambil berkata “Aku mau ikut kakak, Aku mau ikut ke rumah kakak”. Keisya langsung dipeluk oleh ART dan dibawa kembali menuju ke rumah. Sedangkan Aku menghampiri ojek online yang sudah menunggu lebih dari 1 jam. Aku meminta maaf dan menjelaskan apa yang tadi Aku alami ke ojek online tersebut. Nampak raut wajah marah dan kecewa. Wajar dia sudah menunggu lebih dari 1 jam. Di perjalanan pulang, Aku terpikiran dengan kalimat yang tadi Keisya utarakan kepadaku. Mungkin Keisya tidak mau Aku pulang, sehingga dia menyembunyikan ponsel dan kunci rumahnya. Seorang anak berkebutuhan khusus seperti Keisya, pasti sulit mengungkapkan ekspresi dan keinginannya. Sehingga saat tadi Aku dan ART meminta terus menerus kepada Keisya, dia hanya diam dan tampak bingung. Dan menurut Aku, tidak mudah untuk anak berkebutuhan khusus seperti Keisya yang pada akhirnya mengatakan “Aku mau ikut ke rumah kakak” :”)
Lebih dari Cukup
Ketika beberapa murid sebelumnya Aku buatkan kurikulum yang lengkap untuk pembelajaran kedepannya, entah kenapa Aku merasa agak sulit membuat kurikulum untuknya. Seperti yang pernah Aku uraikan sebelumnya, kegiatan belajarku dengan Keisya dibuat spontan. Mengikuti mood dan alur perbincangan kita saat itu. Aktivitas nya seolah nampak seperti tidak sedang belajar. Ketika Aku shalat di rumahnya, Keisya melihat dan bertanya tentang sholat. Ketika Aku berdoa setelah shalat, Keisya terlihat penasaran dan Aku langsung melantangkan suara doaku agar Ia dapat mendengarnya. Ketika Ia sedang datang bulan dan noda merah tembus di celana dan kursi, Aku ambil contoh pembalut untuk dibersihkan dan Keisya menirunya. Aku bukan seperti seorang guru saat Aku ikut mandi dengannya, saat Aku bersamanya mencuci noda di celananya, bahkan hanya sekedar menonton video tutorial memasak dan mencoba membuatnya bersama. Aku juga tidak layak terlihat seperti guru saat Aku datang dan Aku malah mengajaknya ke Gandaria City Mall yang berada di bawah apartemen Neneknya. Memintanya bertanya kepada security mall terkait tempat yang akan kita kunjungi, yang padahal Aku sudah tahu kemana arahnya. Memintanya bertanya tentang harga ke penjual dan memintanya untuk membayarnya sendiri. Saat itu, Ia nampak malu tapi tertarik. Bahkan keluarganya pun terlihat aneh dan bingung layaknya bertanya dalam hati “Kok Keisya bukannya belajar malah diajak jalan-jalan?”. Sudahlah, tidak perlu ada kurikulum dan pembelajaran terstruktur bagi kami, tidak perlu dulu target akademik baginya. Lebih dari cukup bagiku menjadikan Keisya sebagai teman dan sebaliknya. Karna bagiku, yang terpenting bagi dirinya adalah memiliki ‘teman’.