Memilih Diri dalam Diri

9 min read

Oleh : Rama Swahuda


“Jadilah dirimu sendiri!” ucapnya.
Itu menjadi kalimat sakti baginya. Di matanya, tangis dan jeritan orang lain tak lebih berharga dari keuntungan yang akan ia raup. Matanya telah dibutakan harta, hatinya berjingkrak kegirangan lantaran ambisinya telah tercapai.
Wajah itu adalah sosok kondang seorang pejabat yang selalu tersenyum dalam setiap kesempatannya. Namun, entah mengapa tidak ada yang menyukai senyumnya.
“Tidak mengapa korupsi jika hanya sedikit,” begitu ucapnya.
Tak sedikit orang yang heran dan akhirnya ragu padanya. Sebagian orang bahkan sudah mengecap mereka sebagai sosok banal yang tak lagi bisa diobati. Lucunya, mereka dilabel tanpa pandang bulu. Semuanya sama saja.
Kekuasaan menjadikan mereka pongah. Mulai dari korupsi hingga penjajahan kecil, mereka tidak ada habisnya berpolah. Wajah mereka tak nampak seperti sudah melakukan sesuatu yang salah.
Kepolosan Hati dan Jiwa mereka terlihat saat tengah duduk di meja hijau. Tampak tak bersalah, bahkan raut wajahnya tak menunjukkan penyesalan mendalam. Tak sedikit dari mereka taubat seketika.
Namun, itu sekadar tobat sambal. Hanya mengenakan atribut agamis agar dikira sudah pamit dari perilaku ke-bandit-annya. Kala ada kesempatan kedua, ia tak segan melakukannya lagi.
Bayangkan, saat ini bandit negara itu tengah melangkah di karpet merah pengadilan. Berbalut jaket oranyenya, ia berlenggak layaknya selebriti. Ketika para pewarta bertanya padanya, ia menjawab,
“Pokoknya yang penting, harapannya kita serahkan kepada pihak yang mulia.”
Entah apa yang ia harapkan, entah apa yang ia serahkan pada yang mulia. Yang jelas, bayangan hotel prodeo yang rakyat gambarkan berbeda dengan apa yang menanti bandit itu.
Ia tahu, bahwa realita bisa ia beli, bahwa nasibnya tak seburuk semestinya. Kala rakyat pasrah akan keadilan, ia pasrah menanti kamar tidurnya yang megah.


“Aku kagum padanya,” ucap Hati.
“Bayangkan bisa menjadi orang setenang itu kala kondisi tidak berpihak padanya.”
Maksud Hati, lihat betapa tenangnya seorang koruptor saat menghadapi nasibnya. Bagi penyamun yang lain, penjara mungkin jadi akhir hidupnya. Mereka tertunduk kala menghadap yang mulia hakim di pengadilan.
Bahkan, tak sedikit dari mereka habis dipukuli polisi sebelum akhirnya dibui. Sungguh potret yang bertolak belakang dengan nasib para koruptor.
“Siapa bilang kondisi tidak berpihak padanya?” sanggah Akal.
“Dia bisa beli kamar mewah di penjara dengan fasilitas bak hotel. Hukumannya pun bisa dipangkas dengan harga yang pas. Kondisi justru berpihak padanya.”
Betul juga, pikir Hati. Mungkin itu yang membuat mereka begitu tenang. Bahwa, realita bekerja sesuai kantung mereka. Semakin lebar dompet mereka, maka semakin megah ‘hotel’ mereka.
“Ah, aku semakin kagum,” ungkap Hati.
Akal kehilangan arah. Ia tak paham apa yang saudaranya ini pikirkan. Ia pikir, koruptor mengesankan? Apa iya bisa membeli hukum adalah suatu yang mengagumkan?
“Maaf, tapi bagaimana seorang koruptor bisa begitu membuatmu kagum?” tanyanya.
“Aku kagum bagaimana dia terlihat tak peduli ucapan orang lain tentangnya. Dia mampu melakukan apa yang menurutnya baik dan menyenangkan, Bahkan, ia mendapatkannya,” jawab Hati.
“Ia tak peduli apa yang terjadi pada orang lain. Entah itu kemiskinan, sakit, hingga kehilangan orang yang mereka cintai. Asalkan ambisinya tercapai, itu bukan masalah besar,” sambungnya
Wow… Akal tercengang mendengar jawaban itu. Kalimat itu terdengar begitu aneh dan janggal. Kesannya, Hati tak kalah bengis dengan para penyamun itu. Akal bingung, apakah ini sebuah kebodohan atau kepolosan Hati.
Sebelum Akal sempat menyanggah, apa yang Hati ucapkan berikutnya membuat Akal terdiam.
“Aku pikir, itu wujud dari makhluk yang berhasil menjadi diri sendiri,” sambung Hati.
Akal kehilangan dirinya. Tunggu, maksud Hati, koruptor adalah salah satu contoh manusia yang telah menjadi dirinya sendiri? Ini tidak terdengar salah. Akal, mencoba mencermati kalimat itu satu persatu.
Jadi maksud Hati, mereka yang berhasil menjadi dirinya sendiri adalah mereka yang: tidak peduli ucapan orang lain atas dirinya, mengikuti keinginannya, dan menerima keadaan dirinya? Meskipun ia seorang penyamun kelas kakap yang merugikan banyak orang?
“Benarkah begitu?” tanya tanya Akal pada Hati.
“Aku tahu, pernyataan soal menjadi diri sendiri selalu membuatku bingung. Menjadi diri yang mana? Begitu kurang lebih,” jawab Hati.
“Tapi melihat kepolosan bandit itu… Aku jadi yakin bahwa ini adalah jawabannya.”
“Ngawur!” sanggah Akal.
“Jadi kamu pikir, manusia itu makhluk bengis bak penyamun seperti dia?”


Apakah manusia benar-benar memiliki wujud asal yang disebut sebagai diri sendiri? Apa sebenarnya makna jadi diri sendiri?
“Aku tidak setuju kalau koruptor dijadikan contoh orang yang berhasil jadi dirinya sendiri,” sanggah Akal.
“Aku selalu berpikir bahwa manusia adalah makhluk yang suci. Makhluk terbaik dari ciptaan-Nya. Lantas, apa yang kau ucapkan itu bertolak belakang dengan keyakinanku!”
Hati tertegun. Apa maksud Akal ini? Tunggu dulu, mungkin ini sebuah kesalahpahaman. Mungkin, Akal berpikir aku telah menghina manusia karena menyamakan sifat koruptor dengan manusia? Lho, koruptor memang manusia.
Atau… Jangan-jangan Akal tidak terima bahwa makna jadi diri sendiri adalah menjadi seperti koruptor yang bengis? Jadi jati diri manusia itu seperti koruptor yang tamak nan rakus? Ah, aku bingung!
“Maksud mu bagaimana? Apa kamu baru saja marah pada hal yang tidak penting?” tanya Hati.
Mendengar pertanyaan itu, Akal naik pitam. Apa yang dia maksud tidak penting? Benar-benar tidak tahu diri.
“Begini, kamu bertanya kepadaku ketika manusia hendak menjadi dirinya sendiri, kamu bingung soal diri yang mana yang mereka sebut,” jawab Akal.
“Pertanyaan itu seakan-akan mengandaikan bahwa manusia selalu punya jati diri yang general dan berlaku ke semua orang. Maksudnya, ketika mereka menjadi diri sendiri, mereka akan sampai sifat general itu,” Akal menelan ludah dan melanjutkan penjelasannya.
“Oleh karenanya, jika kamu menjadikan koruptor sebagai contoh orang yang menjadi diri sendiri, itu sama saja kamu mengandaikan bahwa sifat asli manusia adalah persis seperti para penyamun itu!”
Hati agak bingung. Tapi, setidaknya ia paham beberapa bagian dari apa yang dimaksud oleh saudaranya. Ia menengadahkan kepala, mencoba mengurai penjelasan Akal.
Apakah ada yang terlewat olehnya? Atau, ini coba salah paham saja? Tunggu, aku tidak pernah bermaksud untuk menyebut jati diri manusia adalah seperti koruptor: tamak, rakus, dan seenaknya saja. Eh, apa iya ya?
Dasar Akal, memang sudah sifat dasarnya untuk menilai dan menghakimi. Maksudku, aku berpikir bahwa manusia tidak memiliki jati diri yang general. Justru, aku berpikir bahwa manusia itu layaknya kanvas putih. Dan seiring berjalannya waktu, sebuah lukisan tinggal di sana.
Artinya, manusia punya sebuah jati diri yang ia bangun saat ia berkembang. Entah itu lukisan yang baik atau buruk, kelak ia akan kembali pada tabiatnya. Ah, aku harus menjelaskan ini pada Akal.
“Bung, sepertinya kamu salah paham,” sahut Hati.
Hati mencoba menjelaskan tepat seperti apa yang ia pikirkan. Bahwa, jati diri manusia berbeda-beda. Semua tergantung oleh sebuah keadaan di mana kanvas dalam tubuh manusia itu terisi sebuah lukisan.
“Manusia punya kanvas yang mencerminkan jati dirinya. Menurutku, jati diri yang bersifat general dari manusia adalah kepolosan. Kemudian, akan terbentuk jati diri selanjutnya dari kehidupannya di dunia,” jelas Akal.
“Kamu tidak salah, Akal. Manusia itu suci.”
Akal terdiam. Akal semakin bingung. Apa yang telah terjadi? Kok, sepertinya ia sedang menjelaskan dua hal yang berbeda. Apa yang ia katakan sebelumnya bertolak belakang dengan apa yang ia jelaskan saat ini.
Jadi, maksud Hati, aku salah kaprah soal makna menjadi diri sendiri?
“Lalu, maksudmu soal koruptor sebagai contoh makhluk yang dapat menjadi diri sendiri apa?” tanya Akal.
“Begini,” Hati bersiap untuk menjawab pertanyaan saudaranya itu.
“Kita analogikan, jati diri manusia adalah kepolosan. Putih, bersih, suci, seperti sebuah kanvas atau kertas yang tak ternoda.”
Akal mencoba mencernanya. Hati begitu santun dan lembut kala menjelaskan kalimat pembuka itu. Itu justru membuat ia semakin tidak sabar.
“Kemudian, seiring perjalanan hidup manusia, kanvas itu mulai tergores oleh warna-warni adegan hidupnya. Mulai dari kebahagiaan, pahitnya hidup, penyesalan, luka, duka, bahkan niat bengis,” sambungnya.
“Warna-warna itu tanpa sengaja membentuk sebuah lukisan yang berbeda-beda pada setiap manusia. Itulah jati diri manusia semasa ia hidup. Lukisan itu merupakan tabiat manusia yang mempengaruhi diriku dan dirimu.”
Akal mencondongkan tubuhnya ke arah Hati, tanda ia semakin serius mendengarkan. Ia belum berani menyimpulkan penjelasan Hati. Pasti, masih ada penjelasan lebih lanjut soal ini. Simpan dulu pertanyaanmu, Akal.
“Mempengaruhi diriku dan dirimu?” Akal tak tahan akan gatalnya rasa ingin bertanya.
“Yap,” jawabnya.
“Sederhananya, seperti ini. Lukisan itu menentukan apa yang dipercaya dan tidak dipercaya. Semakin besar lukisan itu, maka semakin nyata dan kuat dorongannya untuk manusia.”
“Untuk kasus koruptor, mungkin, ia menganggap bahwa uang dan kekuasaan adalah segalanya. Mungkin, ia percaya bahwa dunia ini adalah kompetisi. Sehingga, mereka yang tak berhasil meraih tujuannya adalah mereka yang kalah. Itu wajar dalam kompetisi,” jelasnya.
Pembicaraan ini semakin dekat kepada titik terang. Akal mulai memahami apa maksud Hati soal jadi diri sendiri. Mungkin, maksud Hati soal jadi diri sendiri adalah menjadi lukisan yang ada di dalam diri manusia.
Tapi, apa maksudnya dia kagum dengan koruptor? Apa maksudnya ‘berhasil’ menjadi diri sendiri?
“Tunggu, kenapa kamu tahu? kenapa kamu kagum dengan koruptor? Dan, kenapa kamu menyebutnya sebagai orang yang berhasil menjadi diri sendiri?
Dasar, Akal. Sifat kritisnya tak pernah padam. Kadang, Hati jengkel juga dengan pertanyaannya yang tidak ada hentinya. Tapi, ia sadar bahwa tanpa Akal, ia tidak ada apa-apanya.
Hati menghela napas dan berusaha untuk menjelaskannya sesingkat mungkin.
“Aku tahu karena aku melihat bagaimana kanvas jati diri manusia itu tergores warna-warni dunia. Aku, Hati, tempat dimana kanvas itu dilukis. Dan, tahukah kamu?” Hati berhenti sejenak.
“Terlalu banyak warna dan lukisan di sini. Kadang, aku pun bingung ketika seseorang mengatakan soal menjadi diri sendiri. Itu sebabnya aku tak paham dengan konsep menjadi diri sendiri.”
Akal terdiam. Ia merasa bagian ini agak terlalu jauh untuk ia pahami. Bukan. Ini sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Jadi maksudnya apa? Jadi diri sendiri itu maknanya apa?
Melihat Akal terdiam, Hati tau bahwa saudaranya tengah kebingungan. Pada dasarnya, Hati juga bingung bagaimana menjelaskannya. Namun, ia berusaha agar perdebatan ini berakhir damai.
“Begini,” Hati melegakan tenggorokan untuk penjelasan berikutnya.
“Kadang, seorang manusia menyangkal sifat yang ada di dalam dirinya. Ia menyangkal lukisan yang sudah ada di dalam tubuhnya sejak lama.”
Oh! Begitu rupanya! Wajah Akal seakan tersambar petir. Ia sepertinya mulai memahami persoalan soal menjadi diri sendiri. Sedikit demi sedikit, semua pernyataan Hati ia rangkai layaknya teka-teki. Namun, ia berusaha keras menahan diri untuk menyimpulkannya sepihak.
Melihat matanya yang tiba-tiba terbelalak itu, Hati yakin saudaranya tengah menyimpulkan sesuatu. Hati pun melanjutkan penjelasannya.
“Manusia punya kemampuan untuk memilih lukisan mana yang akan ia tampilkan kepada manusia lainnya. Kadang, ada mereka yang lelah karena menampilkan lukisan yang pada dasarnya tidak ia inginkan,” jelasnya.
“Maksud dari ‘tidak ia inginkan’ menurutku adalah bukan lukisan yang dominan. Ini membuat mereka kepayahan dan capek sendiri. Kondisi ini yang kusebut sebagai tidak menjadi diri sendiri,” sambungnya.
“Kondisi ini tentu punya beberapa faktor, contohnya — belum selesai bicara, Akal memotong pembicaraan.
“Terlalu banyak memikirkan ucapan orang lain!” sahut Akal.
Hati terkekeh. Sepertinya, Akal sadar kalau itu bagian dari pekerjaannya. Sekarang kau tahu, kan? Dampak dari pekerjaanmu itu membuatku lelah! Aku mau menampilkan lukisan yang ini, eh, kamu malah tahan dan kasih keluar lukisan yang lain. Dasar.
“Benar,” jawab Hati tenang.
Tentu, Hati tak ingin mengungkapkan keluh-kesahnya saat ini. Ia pikir, itu bukan waktu yang tepat. Kini, saatnya menjelaskan perkara koruptor sebagai contoh makhluk yang berhasil menjadi diri sendiri.
“Aku kagum dengan para koruptor karena mereka berhasil menunjukkan lukisan dominan pada dirinya. Terlebih, aku kagum karena mungkin, mereka berhasil membuatmu tidak berdaya,” jelasnya.
Maksudnya? Maksud dari membuatku tidak berdaya apa? Akal bingung.
Akal tak dapat membodohi saudaranya. Kerutan di dahinya merupakan kode bagi Hati untuk mengetahui bahwa ada kalimat sukar dipahami. Hati mencoba untuk membuat analogi yang lebih mudah.
“Tidak mampu menjadi diri sendiri itu karena aku dan kamu berbeda selera. Akhirnya, lukisan yang kumau tidak keluar. Atau sebaliknya, lukisan yang ku tidak mau justru kau keluarkan menjadi tabiat manusia,” paparnya.
“Kalau koruptor mampu menjadi diri sendiri itu mungkin mereka tidak menggunakan mu, atau aku dan kamu sudah satu pikiran.”
Hati memberikan jeda agar penjelasannya dapat dicerna oleh saudaranya. Selah beberapa napas, ia melanjutkannya.
“Aku tidak mampu menampilkan sebuah lukisan kalau menurutmu itu tidak baik untuk ditampilkan. Ini pekerjaan dua pihak, bung. Jadi, kalau lukisan buruk yang keluar, itu artinya antara kamu tidak peduli lagi, atau kita berdua sudah satu paham.”
“Ketika selera kita berbeda, maka itu membuat tubuh lelah. Mengerti?”
Jadi, maksud Hati, para penyamun itu kemungkinan sudah membuat Akal tidak berdaya. Atau, Hati dan Akal sudah sama-sama bingung antara mana yang baik dan buruk. Atau, Hati dan Akal sudah bersekongkol untuk mengupayakan sesuatu sesuai lukisan yang mereka sukai.
Akal bisa paham. Karena, kerap kali apa yang diinginkan oleh Hati tidak selalu berujung baik. Itu adalah tugas Akal untuk menahan risalah Hati. Itu adalah tugas akal untuk menimbang baik buruknya ambisi saudaranya itu.
Tapi, perlu aku bahwa terkadang pun aku melakukan kesalahan. Ya. Salah satu contohnya adalah terlalu banyak memikirkan pendapat orang lain. Atau, terlalu banyak menimbang untung-rugi memamerkan sebuah lukisan. Pikir Akal.
Tunggu dulu. Bagaimana kita tahu bahwa para bandit itu menjadi dirinya sendiri? Siapa tahu, mereka tidak sedang menampilkan lukisan terbaiknya. Justru, mereka berusaha untuk menampilkan lukisan yang lain? Ah! Ini semakin membingungkan!
“Jadi apa sebenarnya yang membuatmu kagum pada penyamun itu? Apa karena penyamun itu berhasil mengalahkanku?” tanya Akal.
“Itu salah satunya,” jawab saudaranya.
“Lihat saja wajahnya. Nampaknya ia tidak perduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentangnya.”
Kurang ajar. Pikir Akal. Jadi selama ini kita tengah berkompetisi? Aku jadi paham bahwa sebenarnya kamu ingin mengalahkanku, ya?
“Kedua, aku kagum karena mungkin akhirnya aku dan kamu sejalan,” sambungnya.
Memangnya aku dan dia tidak pernah sejalan? Ah, kamu ini membuat aku semakin jengkel saja. Pikir Akal. Tapi kejengkelannya itu tertutupi oleh rasa penasarannya terkait beberapa hal.
“Sebentar, Hati, aku masih punya beberapa hal yang mengganjal,” Akal tampaknya belum puas dengan jawaban saudaranya.
“Kamu katakan bahwa manusia punya banyak lukisan. Aku memahaminya bahwa manusia punya banyak jati diri sesuai banyak lukisan itu. Jadi, menurutmu, apa arti dari menjadi diri sendiri?”
“Aku sebenarnya juga bingung soal itu,” jawab Hati lirih.
“Menurutku, jati diri hanya sebuah diskursus yang diciptakan manusia saja, kok. Pada akhirnya, manusia memilih dirinya sendiri untuk dirinya sendiri. Maksudnya, apa yang mereka sebut jadi diri sendiri adalah lukisan yang ia pilih dan mereka jadikan tabiat untuk hidupnya,” jelas Hati.
“Setelah mereka memilihnya, mereka menerimanya. Baik atau buruk itu relief. Dan, cepat atau lambat, mereka akan menggantinya seiring berjalannya waktu,” sambungnya.
“Maksudmu, menjadi diri sendiri itu berhasil menentukan lukisan mana yang akan mereka gunakan?” tanya Akal mencoba untuk memahami.
“Kurang lebih seperti itu,” jawab Hati.
“Lalu, bagaimana kamu tahu koruptor itu sudah menjadi dirinya sendiri?” tanya Akal.
Hati menoleh ke arah saudaranya. Menatap wajahnya lekat dan seraya berkata,
“Ya ndak tahu kok tanya saya. Saya kan hanya menduga. Saya kan polos,” jawab Hati melengos.
Mendengar jawaban itu, Akal terkekeh. Sepertinya, ia paham maksud Hati soal menjadi diri sendiri.


“Kenapa aku ada di sini? Apa tujuan hidupku?
Sebuah retorika ringan yang sederhana. Namun, darinya dapat membawa kita ke dalam pemahaman yang mendalam akan siapa diri kita.
Kawan, berapa banyak mereka yang tenggelam dalam lembah ambisi Hati? Dan, berapa banyak mereka yang terpenjara oleh pikiran mereka sendiri?
Tak mampu menahan diri, melepas dahaga kenikmatan dunia dengan berbagai rupa. Menolak gagasan normatif dan idealis semitis dengan kehidupan sekularis. Semuanya bergerak di bawah selimut jati diri.
Apakah itu juga jati diri manusia? Manusia malas, manusia hedonis, manusia anarkis yang jauh dari kata khalis. Mereka rakus, mereka tamak, mengambil hak orang lain tanpa pikir panjang, meninggalkan trauma dan luka.
Begitukah wujud manusia?
Manusia adalah makhluk yang kompleks. Tak hanya wujudnnya, namun juga sifatnya. Ia bagai bumi. Terus berputar, satu sisi hangat dan dingin di lain sisi. Ia kadang keras, namun juga lembut bagai tak berisi. Terdiri dari dua polar yang sama namun bertolak arti.
Ia seperti koin dengan dua wajah. Hari ini, ia terlihat cerah, senyum lebar merekah, dunia terasa indah, perangai pun ramah. Namun, selang berapa waktu tabiatnya kian pongah. Kerut di wajah tanda hatinya gundah. Bibir menekuk ke bawah, pikir sedang resah.
Apapun tabiat mereka, mereka terpaut pada satu poros. Dan, poros itu adalah ciptaan Tuhan untuk menjaga makhluknya. Poros itu adalah hakikat dan kasih sayang Tuhan, sebagaimana firman-Nya dalam surat At-Tin ayat 4,
ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Lantas, ketika Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah memberikan kita wujud yang sebaik-baiknya, masihkah perangai kita bertolak belakang dari wujud penciptaan kita?
Buruk atau baik, manusia yang memilih. Ketika menjadi diri sendiri terasa letih, mintalah pada Dia Yang Maha Pengasih,
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *