Suatu ketika mata saya terhenti disaat sedang membaca deretan judul-judul buku pada suatu rak di toko buku. Saya menemukan sebuah novel tipis terselip diantara novel-novel yang ukurannya lebih besar. Begitulah awal saya menemukan novel ini. Ketika saya membaca nama pengarangnya yaitu Hamka sontak pikiran saya melambung mengingat salah satu tokoh Agama kenamaan dari ranah Minang. Selain terkenal karena kedalamannya dalam ilmu agama, Hamka juga dikenal piawai merangkai cerita. Beberapa novelnya terbit dan mendapatkan sambutan yang cukup hangat baik dari para penggemar maupun kritikus, sebut saja nama novel “Tenggelamnya Kapal Vander Wijck” dan “Dibawah Lindungan Ka’bah” merupakan sedikit dari banyak karya beliau yang dikenal.
Atas dasar nama besar beliau dan kemalasan saya membaca novel yang tebal maka saya mengambil novel ini untuk dibawa pulang ke rumah. Novel ini mengambil latar Indonesia pada masa awal-awal kemerdekaan, tebakan saya tahun 60an-70an. Pada masa ini nilai-nilai pada masyarakat kita khususnya pedesaan masih tertancap kuat dan “stigma” menjadi palu godam yang ampuh untuk menyingkirkan atau memisahkan kelas masyarakat seseorang. Berkisah mengenai kehidupan Mariah, seorang ibu dan istri yang harus terusir dari kampung halamannya karena difitnah oleh mertua dan saudara suaminya sendiri.
Pada awal perjalanan biduk rumah tangga Mariah semua hal berjalan baik-baik saja dan sangat berlangsung harmonis, hingga pada suatu saat Azhar suami Mariah mulai termakan fitnah yang dibisikkan saudara dan ibunya sendiri. Mariah yang merupakan wanita baik-baik dituduh main serong di belakang Azhar. Azhar yang naik pitam lalu mengusir Mariah dari rumahnya. Dengan sedu sedan tangisannya, Mariah pergi tanpa tujuan. Mariah lalu pergi dari satu pintu ke pintu lain untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak. Pada sebuah titik perjalanannya, Mariah dihadapkan pada kenyataan yang pahit, tidak ada yang mau menerima dirinya. Perempuan seumur dia, berjalan tanpa arah dari satu pintu ke pintu lainnya, tanpa wali dan tanpa suami layak di cap sebagai perempuan tidak baik. Setidaknya itu yang ada dalam benak masyarakat pada jaman tersebut. Entah karena dia mulai lelah dengan cobaan atau mungkin marah atas keadaan. Dia pun mulai gelap mata dan berbalik arah, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi…… wanita hiburan. Seperti yang dituduhkan diawal oleh mertua dan saudaranya, seperti yang dibisikkan oleh orang-orang kota dibelakang dirinya. Setelah kejatuhan Mariah dalam jurang kegelapan cerita kemudian berlanjut pada beberapa belas tahun setelahnya, Mariah yang kala itu sudah terjerembab dalam gelapnya dunia nantinya akan dipertemukan lagi dengan keluarganya dalam persimpangan takdir yang mengharukan.
Bagi saya, membaca novel ini bagaikan sedang melihat drama Ind*siar. Karena aroma dramanya sangat kental, terutama ketika kita sudah mencapai klimaks cerita. Mungkin karena hal tersebut beberapa orang akan beranggapan kalau novel ini adalah karya picisan setelah selesai membaca novel ini. Tetapi saya tidak akan beranggapan seperti itu, karena ketika saya mencoba menilik kebelakang, saya ternyata merasa cukup terhibur dengan cerita yang dibawakan dan sempat bertanya-tanya akan dibawa kemana alur ceritanya. Terlebih melihat waktu penulisan cerita ini yang saya duga berkisar dibawah tahun 70an membuat saya jadi berpikir, mungkin plot-plot yang sangat dramatis seperti yang disajikan dalam novel ini belum seumum sekarang (setidaknya tidak umum pada karya-karya populer yang banyak dibaca orang). Hal yang benar-benar saya apresiasi dalam karya ini adalah keberanian Hamka dalam membawakan plot dengan karakter development yang tidak biasa terlebih melihat Hamka adalah seorang agamawan terkemuka. Ini bukan merupakan sebuah ketidakpatutan, hanya saja ini sesuatu yang tidak umum dituturkan oleh agamawan. Hamka melihat dan menuturkan bagaimana manusia adalah insan yang dapat terpuruk dan jatuh dalam kehinaan. Karakter dalam cerita ini tidak digambarkan sebagai karakter yang selalu kuat dan tak tergoyahkan. Pembaca dibawa untuk berempati terhadap keadaan Mariah dan menyayangkan keputusan yang diambil oleh dirinya. Cerita ini berhasil membuat saya tertegun sebentar dan bertanya kedalam diri saya “Apa ada alasan-alasan tertentu untuk setiap perbuatan melenceng seseorang?” Apa jawabannya terletak pada keadaan atau memang tabiat seseorang. Jawaban yang saya temukan berkisar pada suatu perenungan yang mengingatkan saya untuk tidak terburu-buru dalam menjatuhkan penilaian terhadap orang lain, terutama untuk orang-orang yang sedang berada pada masa kelamnya. Selain karakter development Mariah yang tidak biasa, kisah ibu dan anak dalam novel ini juga diceritakan dengan apik. Bagaimana hubungan batin antara anak dan ibu selalu terhubung dan bagaimana kasih sayang seorang ibu tidak akan pudar. Secara keseluruhan pembangunan karakter dan penyusunan plot cerita novel ini cukup bagus hemat saya. Hanya saja pada beberapa bagian cerita terkesan sedikit mengada-ngada, terutama pada bagian akhir cerita. Mungkin karena novel ini tidak tebal, maka alurnya terasa sedikit cepat atau mungkin sebaliknya, novel ini tidak tebal karena alurnya sedikit cepat hehe.
Konklusinyaaa, novel ini sangat menarik untuk dibaca terutama jika kamu tertarik dengan drama dan sedang tidak ingin membaca atau mengikuti cerita yang tebal. Cerita yang ditawarkan cukup menghibur dan dapat membuatmu sedikit merenung. Selamat mencari bukunya ya dan selamat membaca~.